Selasa, 08 Mei 2012

Mahasiswa ITS Olah Binahong Menjadi Keripik
 
 Daun tanaman binahong
HEADLINE NEWS - Tanaman Binahong yang lebih dikenal sebagai tanaman obat, diolah oleh sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) menjadi keripik yang memiliki nilai ekonomi. Program kreativitas mahasiswa ITS ini dikerjakan bekerja sama dengan masyarakat Desa Pandian, Kota Sumenep, Madura.

Kendati di Desa Pandian tanaman binahong cukup melimpah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan pada tahun lalu tanaman ini banyak yang dibuang secara percuma karena terserang hama ulat.

Melihat keadaan itu, kelima mahasiswa ITS yang berasal dari jurusan Teknik Kimia yang terdiri dari Jannatun, Irma, Ugink Mida dan Mafa ini membuat keripik yang berasal dari daun binahong. Selain pembuatannya yang mudah, bahan baku yang dibutuhkan pun juga tersedia melimpah di Desa Pandian.

Ide tersebut disusun menjadi sebuah proposal yang diberi judul ‘PEDE Melalui POKER’ yang memiliki kepanjangan Pemberdayaan Ibu-ibu PKK Desa Pandian Melalui Produksi Keripik Binahong.

Ide tersebut akhirnya mendapat respon yang positif dari pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) dan masyarakat desa Pandian, sehingga pada tanggal 6-8 April 2012 ide ini dapat terealisasi menjadi kegiatan yang dilaksanakan di Desa Pandian, Kota Sumenep, Madura.

“Kami mencoba membuka wawasan masyarakat di desa tersebut bahwa tanaman binahong dapat dijadikan sebagai keripik sehingga bisa menambah pendapatan yang jika dapat dikelola dengan baik maka akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan dapat menjadi makanan khas Kota Sumenep," kata Jannatun, selaku ketua program ini.

Selain itu, untuk menarik antusias peserta program ini yang merupakan ibu-ibu PKK, diadakan juga lomba kreasi keripik daun binahong yang diikuti oleh enam tim ibu-ibu PKK sehingga mereka bisa menunjukkan kekreatifan dalam mengkreasikan pembuatan keripik binahong.

Minggu, 06 Mei 2012

Lulusan SMP Tak Tertampung di Pendidikan Menengah
JAKARTA - Pendidikan menengah di Indonesia belum mampu melayani lulusan SMP. Setiap tahun sekitar 1,2 juta lulusan SMP tidak tertampung di SMA/SMK sederajat.
"Tentu masalah besar, jika banyak lulusan SMP yang tidak bisa melanjutkan ke SMA sederajat. Apalagi secara pandangan dunia kerja, lulusan SMP dianggap masih belum kompeten. Jika terus dibiarkan, banyaknya lulusan SMP yang tidak bisa lanjut ini bisa jadi beban masyarakat dan negara," kata Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud, Totok Suprayitno, dalam seminar bertajuk "Pendidikan di Indonesia : Harapan dan Kenyataan" yang digelar SMA Kolese Gonzaga di Jakarta, Sabtu (5/5/2012).
Totok mengatakan, tidak tertampungnya lulusan SMP ini karena jumlah SMA sederajat yg terbatas, kendala geografi, dan ekonomi. Untuk itu, pada tahun 2013 pemerintah meluncurkan pendidikan universal.
"Jangan sampai siswa miskin terkendala melanjut ke SMA sederajat," kata Totok.
Pemerintah menyediaskan bantuan siswa miskin untuk SMA yang besarnya Rp 780.000 per siswa per tahun. Selain itu, pemerintah memberikan rintisan dana BOS sebesar Rp 120.000 per siswa/tahun.
"Tahun depan dana BOS SMA sederajat ditingkatkan, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan pendidikan di tiap sekolah," kata Totok.

Selasa, 01 Mei 2012

Rencanakan Hidup Sejak Usia Muda
Kepala BKKBN, Sugiri Syarief saat memberikan sambutan pada acara launching Generasi Berencana (GenRe) goes to school di SMAN 36 Jakarta, Selasa (1/5/2012). 
JAKARTA,  - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan program Generasi Berencana (GenRe) goes to school. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, program ini ditujukan untuk generasi muda agar memiliki rencana matang dalam meniti masa depannya.
Kepala BKKBN Sugiri Syarief mengatakan, perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja Indonesia, khususnya yang belum menikah, cenderung meningkat. Berdasarkan survei kesehatan reproduksi remaja Indonesia (SKKRI) dengan responden remaja berusia 15-24 tahun, diketahui bahwa satu persen remaja perempuan dan enam persen remaja laki-laki pernah melakukan hubungan seksual pranikah.
"Itulah mengapa kami luncurkan GenRe, untuk memberi pemahaman kepada para remaja, agar memiliki rencana matang tentang masa depannya," kata Sugiri dalam peluncuran program GenRe di SMA Negeri 36 Jakarta, Selasa (1/5/2012).
Selain seksualitas, perilaku lain para remaja yang berkaitan dengan risiko adalah penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif (napza) serta penularan HIV dan AIDS. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) sampai 2008, sedikitnya 115.404 orang tercatat sebagai pengguna napza. Dari jumlah tersebut, 51.986 di antaranya berusia remaja (16-24 tahun). "Pelajar dan mahasiswa yang tercatat sebagai pengguna napza mencapai hampir 10.000," ujarnya.
Ia mengatakan, program GenRe dilaksanakan berkaitan dengan bidang kehidupan yang kelima dari transisi kehidupan remaja, yakni mempraktikkan hidup secara sehat. Menurut Sugiri, bidang inilah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya remaja dalam menjalani bidang lain.
Program yang ditujukan kepada remaja dan mahasiswa ini diwadahi dalam PIK Remaja/Mahasiswa dan keluarga yang memiliki remaja melalui wadah Bina Keluarga Remaja (BKR). PIK Remaja/Mahasiswa adalah salah satu wadah yang dikembangkan dalam program GenRe, yang dikelola dari, oleh, dan untuk remaja atau mahasiswa guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang pendewasaan usia perkawinan, delapan fungsi keluarga, dan keterampilan hidup.
"Dengan program ini, saya harap semua menyadari masalah besar yang dihadapi oleh remaja. Dengan kesadaran yang semakin tinggi saya yakin kita akan memberikan komitmen kuat bersama-sama membantu remaja untuk tidak menjadi korban dari seks bebas, HIV dan AIDS, serta napza," kata Sugiri.
Selain di SMA Negeri 36 Jakarta, peluncuran GenRe juga akan dilakukan melalui roadshow di beberapa sekolah lain, yakni SMA Negeri 11 Bekasi Jawa Barat, SMA Negeri 8 Malang Jawa Timur, SMA Negeri Swadhipa Natar Lampung Selatan, SMA Negeri 7 Binjai Sumatera Utara, SMA Negeri 5 Makassar, SMA Negeri PAN Samarinda, SMA Kosgoro Tomohon Sulawesi Utar, SMA Negeri Binaan Khusus Dumai Riau, dan SMA Negeri 1 Pringgasela Lombok Timur.

Senin, 30 April 2012

Wow...Kemdikbud Kucurkan Rp 190 Miliar untuk 250 PTS!
semua jenis PTS memiliki batas maksimal penerimaan, yaitu untuk universitas maksimal akan menerima Rp 2 miliar, institut dan sekolah tinggi maksimal akan menerima Rp 1 miliar, sedangkan akademi Rp 500 juta. 
JAKARTA, MEDIA INFORMASI - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengucurkan dana Program Hibah Pembinaan Perguruan Tinggi Swasta (PHP-PTS) kepada 250 PTS. Total dana hibah tersebut sekitar Rp 190 miliar.
Tentu, akan ada batas maksimalnya. Ini agar dana yang tersedia dapat menyentuh 250 PTS dengan kategori penerimaan yang berbeda.
-- Achmad Jazidie
Bantuan PHP-PTS ini merupakan lanjutan dan perbaikan dari Program Hibah Kompetitif Percepatan Mutu PTS Sehat yang telah digulirkan sejak 2008 lalu. Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemdikbud), Achmad Jazidie, mengatakan PHP-PTS diharapkan akan mendorong tiap PTS untuk menyusun rencana penyelenggaraan perguruan tingginya yang didasarkan pada evaluasi diri dan didukung informasi akurat tentang masa depannya.
"Ini sebagai upaya untuk membina PTS agar semakin baik, dan memperbaiki kelembagaan. Misalnya belum memiliki perpustakaan, diharapkan dengan dana ini dapat dibangun perpustakaannya. Sejalan dengan itu, maka ada peningkatan mutu pendidikan," kata Jazidie, Senin (30/4/2012), di gedung Kemdikbud, Jakarta.
Ia menjelaskan, tahun ini ada 878 proposal dari PTS yang masuk ke Ditjen Dikti Kemdikbud. Setelah dievaluasi oleh para reviewer dari beberapa perguruan tinggi yang telah berpengalaman, maka akan ditetapkan 250 PTS penerima PHP-PTS. Ditetapkannya jumlah penerima itu dilandasi dengan alokasi dana yang tersedia dan akan diterima oleh masing-masing PTS.
Jazidie mengatakan, semua jenis PTS memiliki batas maksimal penerimaan. Misalnya, untuk universitas maksimal hanya akan menerima Rp 2 miliar, institut dan sekolah tinggi maksimal akan menerima Rp 1 miliar, sedangkan akademi Rp 500 juta.
"Tentu, akan ada batas maksimalnya. Ini agar dana yang tersedia dapat menyentuh 250 PTS dengan kategori penerimaan yang berbeda, disesuaikan dengan penilaian dari tim reviewer," ujarnya.
Sebagai informasi, Ditjen Dikti Kemdikbud akan mengumumkan 250 PTS yang berhak menerima PHP-PTS pada 7 Mei 2012 mendatang dan hanya melalui satu saluran informasi, yakni website resmi Ditjen Dikti,

Minggu, 29 April 2012

Semua Robot UGM Juara I KRI-KRCI Regional III 2012
 Tim Robot UGM Juara 1 Semua Kategori KRI-KRCI Regional III
YOGYAKARTA, MEDIA INFORMASI - Tim robot UGM meraih sukses besar dalam kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) Regional III tahun 2012 yang digelar di Universitas Dian Nuswantoro Semarang.
Tidak tanggung-tanggung, semua robot UGM berhasil menjadi juara 1 pada semua kategori yang dilombakan, yaitu KRI, KRCI Beroda, KRCI Berkaki, dan KRCI Humanoid Soccer.
Untuk KRI, robot Jump Ace pada babak final mengalahkan robot Maestro-Evo dari UNY. Sementara robot Armada menjadi juara 1 pada kategori KRCI Beroda, robot 1-DA juara 1 kategori KRCI Berkaki, dan robot Alfarobi menjadi juara 1 pada kategori KRCI Hummanoid Soccer.
Tidak hanya itu, robot Jump Ace juga keluar sebagai the best algoritma untuk kategori KRI. Dan, untuk kategori KRCI robot Armada juga berhasil menyandang gelar the best algoritma.
Sukses besar tim robot UGM ini tidak terlepas peran Sidiq Setya, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Industri angkatan 2009. Sidiq selaku driver sangat lincah dan cekatan mengendarai robot Jump Ace, melewati jalur, memasang hingga memasukan beberapa balok buatan.
"Awalnya kita sempat grogi mas ,tapi sebenarnya kunci kemenangan adalah kemampuan adaptasi robot pada lapangan. Dan kita cukup beruntung ketika final mendapatkan lapangan yang sama pada saat semi final sehingga robot tidak perlu banyak beradaptasi," kata Sidiq Minggu (29/4/2012).
Sementara itu Ketua Tim Robot UGM, Damar Satrio Guntoro mengatakan secara garis besar semua robot UGM tidak banyak menemui kendala dalam kompetisi itu.
Hambatan yang sempat muncul adalah adanya beberapa komponen robot yang rusak sebelum tanding dan beberapa robot yang overweight sehingga harus segera dikurangi bobotnya.
"Robot-robot yang rusak segera kita perbaiki, dan yang overweight juga segera kita kurangi bobotnya," kata Damar.
Secara keseluruhan hasil KRI dan KRCI Regional III, yaitu KRI: Juara 1 UGM disusul UNY, Unisula, UNDIP. KRCI Beroda: Juara 1 UGM, Unika Soegijapranata, dan UNY. KRCI Berkaki: Juara 1 UGM sedangkan juara kedua dan ketiga tidak ada.
Untuk KRCI Humanoid Soccer: Juara 1 UGM, disusul UII, UKSW Salatiga, dan Politeknik Negeri Semarang. KRI dan KRCI Regional III diikuti oleh 22 PTN/PTS di DIY-Jawa Tengah, berlangsung tanggal 27-28 April 2012 di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.

Sabtu, 28 April 2012

Memotret Gairah Siswa Berkebutuhan Khusus
 Lomba foto yang diikuti oleh guru dan siswa berkebutuhan khusus tersebut mengambil tema "My Extraordinary Life".
JAKARTA - Sama halnya dengan siswa normal, para siswa berkebutuhan khusus juga perlu sarana dan media untuk menampung gairah kreativitasnya, baik itu hobi maupun minat dan bakat lain untuk dijadikan pelampiasan menekan agresifitasnya. Hal tersebut seperti bisa dilihat pada berbagai kegiatan siswa berkebutuhan khusus bertema Celebrating Autism Awarness, di Sekolah Cita Buana, Sabtu (28/4/2012), Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Simpel, dan kami sangat menghargai semua momentum pada karya foto ini.
-- Nouf Zahrah Anastasia
Acara yang diperuntukkan bagi kepedulian sesama terhadap siswa berkebutuhan khusus ini diisi dengan sejumlah kegiatan, mulai seminar sampai bazar dan lomba foto. Lomba foto yang diikuti oleh guru dan siswa berkebutuhan khusus tersebut mengambil tema "My Extraordinary Life".
Meskipun bukan dalam konteks pameran fotografi profesional, antusiasme siswa dan guru dalam mengikuti lomba tersebut terlihat tinggi. Hal itu tampak dari jumlah foto yang dilombakan, yakni mencapai lebih dari 50 foto. Untuk kalangan pemula, karya dari guru dan siswa berkebutuhan khusus ini juga cukup dapat diperhitungkan. Sebagian dari mereka, menangkap aktivitas sehari-hari di sekolah atau mengabadikan benda dan kegiatan yang mereka sukai.
"Untuk lomba foto sebenarnya kita undang partisipasi dari banyak sekolah. Tapi, hari ini karya foto didominasi oleh siswa dari sekolah kami. Simpel, dan kami sangat menghargai semua momentum pada karya foto ini," kata Kepala Bagian Pendidikan Kebutuhan Khusus Sekolah Cita Buana, Nouf Zahrah Anastasia, kepada Kompas.com, Sabtu (28/4/2012).
Di area bazar, semua stan dipenuhi beragam karya para siswa berkebutuhan khusus dari lima sekolah. Umumnya, para siswa menjajakan hasil kreativitas mereka seperti kotak tisu, sepatu, lukisan, sampai pernak-pernik kecil hasil daur ulang sampah nonorganik.
Sesuai dengan misinya, lanjut Nouf, kegiatan ini diharapkan bisa menunjukkan eksistensi siswa berkebutuhan khusus serta membuka kesempatan adanya pertukaran informasi dan wawasan tentang siswa berkebutuhan khusus kepada masyarakat luas. Rencananya, seluruh keuntungan dari kegiatan yang juga bekerjasama dengan Kompas.com ini akan diberikan kepada kaum dhuafa.
"Dari awal kita berkomitmen untuk terbuka pada anak berkebutuhan khusus. Ini feed back kepada masyarakat," ujarnya.

Jumat, 27 April 2012

Agama Pengaruhi Perubahan Perilaku pada Lingkungan
 Dr. Fachruddin Majeri Mangunjaya.
JAKARTA - Pandangan manusia terhadap lingkungan ditentukan oleh agama. Selain itu, agama juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku terhadap lingkungan selain tiga faktor lainnya, yaitu penegakan hukum, pendidikan, dan kekuatan pasar.
Demikian landasan White (1967) yang memperkuat disertasi Dr Fachruddin Majeri Mangunjaya, dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional (UNAS) yang secara resmi meraih gelar Doktor melalui presentasi disertasinya berjudul "Desain Ekopesantren dalam Kerangka Pembangunan Berkelanjutan". Fachruddin diputuskan berhak menyandang gelar Doktor bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan oleh Rektor Institute Pertanian Bogor (IPB) dan komisi penguji utama sekaligus komisi pembimbing yaitu, Prof. Dr. Ir, Hadi S. Alikodra, MS, Dr. drh. Akhmad Arif Amin, dan Dr. Ahmad Sudirman Abbas.
Adapun penguji luar komisi terdiri dari Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA dan Deputi bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr. Henri Bastaman, MES.
"Konsep disertasinya sangat menarik karena dia (Fachruddin) mencoba mengkolaborasikan konsep agama, dalam hal ini Islam, ke dalam lingkungan hidup," ujar Wakil Rektor bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) UNAS, Prof Ernawati Sinaga di Jakarta, Jumat (27/4/2012).
"Kekuatan bahasa dan ilmu agama dalam paparan disertasinya juga luar biasa. Terlebih data-data yang disajikan bukanlah data usang sehingga membuat kita asyik dalam membaca karyanya," katanya.

Pada kesempatan sama, Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Dr Henri Bastaman mengungkapkan, ranah kepercayaan agama mempunyai posisi dan peran strategis dalam menyadarkan arti penting lingkungan hidup.
Sementara Fachruddin sendiri berharap, dengan melakukan penelitian ini dirinya dapat memberikan pemahaman terhadap pentingnya melibatkan dimensi etika (agama) dalam melestarikan lingkungan dan dapat menjadi masukan bagi masyarakat tentang keberadaan dan fungsi pesantren sebagai lembaga yang perlu diperhitungkan dalam menunjang tercapainya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.
Adapun Dr Fachruddin menyelesaikan disertasinya dengan meneliti tiga Pondok Pesantren Induk daerah Jawa Barat dan Banten, yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Buntet, Cirebon, Ponpes Al Musaddadiyah, Garut, dan Ponpes Modern Daarul Qolam, Banten.